Kontak Kami
081225700025

Berterima Kasih-Belajar Bijak dalam Hidup

Berterima Kasih-Belajar Bijak dalam Hidup

Terima kasih Ya Nak

Oleh: Ninin Kholida Mulyono, S. Psi., M. Kes.


“Nak, tolong ambilkan buku umi”, sang anak berusia lima tahun itu berlari dan mengambilkannya untuk sang umi. Tergopoh-gopoh sambil tersenyum membawakan buku itu pada sang umi. Membalas ucapan terima kasih itu.

Ya, episode yang indah. Episode terima kasih, adalah episode kemanusiaan. Adegan nyata tentang kebutuhan manusia akan penghargaan, respect dan ekspresi perhatian. Sebuah frase singkat “terima kasih” rahasia tumbuh subur cinta, tapi banyak diabaikan. Seringkali sulit diterapkan.


“Terima kasih Nak”, Ibu juga mengucapkannya ketika permintaan tolongnya kami penuhi. Ibu mengucapkan terima kasih untuk perbuatan baik, meski sederhana. Melipat pakaian sendiri, misalnya. Tapi ucapan terima kasih itu membuat kami tahu, bahwa meringankan pekerjaan orang tua adalah pekerjaan yang hebat. Membuat kami merasa lebih berarti melakukannya.

Ucapkanlah terima kasih. Begitu pelajaran yang kucatat dalam memoriku. Melekat seketika. Karena kedengarannya begitu indah di telinga. Membuat kita merasa menjadi lebih berarti. Membuat kita yakin bahwa kita bisa berbuat baik.


“Terima kasih ya... kalian sudah bersabar selama ini, belajar memahami kondisi orang tua”, ucap Ibu suatu ketika.

“Terima kasih ya sudah belajar dengan rajin, alhamdulillah”, ucap Ibu setelah mengambil raporku. Membuat aku yakin bahwa belajar dengan rajin adalah hal yang penting untuk dilakukan.


Mengajarkan Terima Kasih

“Pake tangan kanan sayang, nah bilang appa”, tuntun si umi.

“aciii....”, jawab lelaki kecil berumur tiga tahun itu sambil tersenyum.


Kelak, ketika anak kecil itu tumbuh besar. Kami hampir selalu mendengar ucapan terima kasih, metamorfosa kata “aciii” yang sudah disempurnakan. Menyempurnakan pula kepribadiannya. Jadi sosok yang tersenyum, berwajah ceria, dan menghargai pemberian. Tidak gampang merengek cengeng jika keinginannya tak dipenuhi.


Ibu menghidangkan singkong mengepul di depan meja, mengulek sambel untuk dicolek, membuatkan teh sehingga teman makan di sore itu. Dan ibu bercerita, bahwa singkong itu adalah menyegarkan suasana dengan cerita lucu. Membuat kami merasakan kelezatan luar biasa dari singkong sederhana itu. Setelah singkong itu ludes, Ibu mengisi piring kosong dengan jajanan lain, lalu mengajak kami mengmbalikan piring yang sudah dicuci. Sambil bercerita dengan riang, bahwa singkong pemberiannya sudah habis kami lahap sekeluarga. Ada kebahagiaan di wajah keriput tetangga kami yang sederhana itu.


Hari itu Ibu mengajari kami lagi tentang terima kasih, yang bukan hanya di bibir tapi keseluruhan penghargaan dan perhatian. Terima kasih yang membuat orang lain menjadi lebih berarti, membuat mereka sadar bahwa mereka berharga karena berbuat hal yang berharga untuk orang lain.

Jangan pelit mengucapkan terima kasih pada anak-anak. Ucapkan terima kasih, jauh lebih banyak dari pada celaan yang kita katakan pada mereka. Ajarkan anak-anak kita untuk mudah mengucapkkan terima kasih. Jadikan anak kita percaya , bahwa kita orang tua mereka adalah orang yang pandai dan terbiasa mengucapkan terima kasih pada orang lain. Sehingga sang anak tak ragu, untuk meneladani kepribadian ‘terima kasih’ orang tuanya.


“Barangsiapa yang tidak mensyukuri yang sedikit tidak akan mensyukuri yang banyak. Barangsiapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, tidak akan mensyukuri yang banyak. Barangsiapa yang tidak berterima kasih kepada manusia maka ia tidak akan bersyukur pada Allah ‘Azza wa Jalla. Mengungkapkan terima kasih atas nikmat Allah adalah bentuk kesyukuran dan meninggalkannya adalah bentuk kekufuran. Berjamaah adalah rahmat dan berpecah belah adalah azab.” (HR. Ahmad)
827 Pembaca    |    3 Komentator
Share This :  
Tag : belajar terimakasih, motivasi hidup, motivasi kerja, motivasi training, outbound training, outbound semarang, outbound indonesia, outbound jateng,

Kirim Pesan Anda