Mohon izin sekadar meneruskan dari grup sebelah, menginfokan bahwa sinyal internet akan diberhentikan di seluruh Indonesia menyusul diberlakukannya kebijakan lockdown mulai tanggal 32 Mei. Semua aktifitas handphone akan terpantau 100%, semua media sosial dan forum dimonitor. Berhati-hatilah mengirimkan pesan. Jangan berhenti di kamu, sebarkan agar semua orang berhati-hati.

jasa outbound

Dari informasi ini, bisakah Anda mengenali mana informasi yang benar dan mana hoax?

Di tengah terus bertambahnya jumlah kasus positif Covid-19 di Indonesia, banyak ditemukan kabar palsu atau hoax seputar virus tersebut yang beredar di masyarakat. Data dari Kementerian Komunikasi dan Informatika menyebutkan terdapat 556 hoax seputar Coronavirus. Berita hoax ini tersebar melalui berbagai media; di situs web, dalam boardcast aplikasi obrolan seperti Whatsapp, Telegram, Line, dan media sosial seperti Facebook, Instagram, dan Twitter.

Penelitian yang dilakukan oleh Feldman (2009) melaporkan bahwa seseorang kerap berbohong secara reflek ketika berbicara. Hal ini dilakukan karena ia ingin diterima dan membuat orang lain terkesima. Ini serupa terjadi ketika orang-orang gemar menyebarkan informasi hoax di media sosial seperti sekarang. Selain itu, menurut Juditha (2018), informasi hoax disebarkan dengan tiga motif yaitu motif ekonomis, motif ideologis-politis, dan motif kesenangan untuk merugikan orang lain.

corporate gathering

Mengapa Orang Mempercayai Berita Hoax?

Gathman (2017) menyatakan seseorang lebih cenderung percaya hoax jika informasinya sesuai dengan opini atau sikap yang dimiliki. Misal seseorang memang sudah tidak setuju terhadap kebijakan tertentu. Perasaan positif akan timbul di dalam diri seseorang ketika ada yang mengafirmasi apa yang dipercayai. Perasaan terafirmasi tersebut juga menjadi pemicu seseorang dengan mudahnya meneruskan informasi hoax ke pihak lain. Menurut Gathman (2017), terbatasnya pengetahuan seseorang juga menjadi alasan orang percaya hoax. Tidak adanya prior knowledge tentang informasi yang diterima bisa jadi memengaruhi seseorang untuk menjadi mudah percaya informasi hoax. Selain itu, kerapkali orang hanya membaca judul berita tanpa membaca konten yang mereka bagikan. Hal ini bisa dilihat di beberapa berita yang kadang judul dan isinya tidak berkaitan, namun orang-orang cenderung ramai berkomentar tentang judulnya saja.


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *