Seligman –Pelopor Psikologi Positif– menyatakan, seseorang yang optimis akan mengatakan “setengah penuh” alih-alih “setengah kosong” ketika melihat sebuah gelas yang terisi air setengahnya. Sama halnya ketika kita mencermati situasi selama pandemik Covid-19 ini, seseorang yang pesimis akan mengatakan, “jumlah yang meninggal kok banyak banget ya?”, atau “aku bosan di rumah melulu, aku sampe bingung mau ngapain”. Sedangkan seseorang yang optimis akan mengatakan, “yang sembuh banyak juga ya”, atau “aku jadi punya banyak waktu bersama keluarga di rumah”.

optimisme

Optimisme adalah kebiasaan berpikir positif seseorang yang dilihat melalui gayanya dalam menjelaskan suatu peristiwa. Seseorang yang optimis adalah mereka yang tangguh, melihat permasalahan sebagai sesuatu yang sementara, serta memiliki harapan yang positif akan masa depan. Sedangkan orang yang pesimis akan mengatakan bahwa tidak ada yang bisa ia lakukan untuk merubah nasib, lantas menyerah dan berputus asa akan keadaan (Seligman, 2006). Belajar dari optimisme yang dipaparkan Seligman, mari kita bawa pada kondisi saat ini di mana pandemik Covid-19 memengaruhi banyak aspek kehidupan manusia di seluruh dunia, tidak hanya aspek fisik namun juga kondisi mental masyarakat. Kita hidup di lingkungan dan kondisi yang penuh tekanan selama berbulan-bulan.

Lantas, apakah kita harus menyerah dengan keadaan? Ingat bahwa selalu ada hal positif dibalik sebuah musibah. Dunia bahkan pernah dihadapkan pada situasi sulit seperti pandemi the Black Death pada tahun 1346 hingga wabah Kolera yang menyebabkan kematian hingga 1 juta jiwa. Membaca sejarah-sejarahnya, meyakinkan bahwa pandemi ini adalah sesuatu yang sementara serta memberi harapan bahwa keadaan akan menjadi lebih baik ke depan.

Optimisme

Bagaimana melatih diri untuk menjadi pribadi yang optimis? Salah satu dari lima cara yang ditawarkan Seligman dalam bukunya “Learned Optimism: How to Change Your Mind and Your Life” adalah dengan menerapkan teknik ABC. ABC adalah akronim dari Adversity, Beliefs, dan Consequence. Adversity (A) diartikan sebagai kesulitan. Bagaimana kita berpikir mengenai kesulitan, bukan karena peristiwanya melainkan apa yang kita pikirkan terkait kesulitan yang terjadi. Biasakan untuk mengganti (substitute) pikiran negatif dengan hal-hal positif, hal ini akan membentuk Beliefs (B) atau keyakinan. Apabila kita memiliki keyakinan yang positif, maka akan membentuk Consequence (C) atau konsekuensi yang positif pada diri kita. Sama halnya ketika kita melihat pandemik ini sebagai sesuatu yang bersifat temporer (Adversity) sehingga berkeyakinan bahwa pasti ada solusi untuk mengakhiri bencana ini (Beliefs), dan  akhirnya memunculkan Consequence (C) bagi kita untuk berusaha melaksanakan dan mendukung kebijakan-kebijakan yang ditetapkan dengan lapang hati, seperti tidak bersungut-sungut ketika harus berbulan-bulan hanya di rumah saja. 

Semua orang bisa mengembangkan sikap optimismenya masing-masing agar dapat merespons dengan baik bencana atau peristiwa buruk yang terjadi di sekelilingnya. Jadi, selamat menjadi pribadi yang optimis, bersama kita hadapi kesulitan-kesulitan ini semua.

Sumber : Seligman, M.E. (2006). Learned Optimism. How to Change Your Mind and Your Life. USA: Random House, Inc.


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *