Apakah Anda pernah memiliki ekspektasi  terhadap seseorang atau sesuatu, kemudian kenyataannya malah justru makin kecewa  ? jika hal ini terjadi berulang-ulang, maka kekecewaan itu akan makin menumpuk serta melebar menjadi berbagai bentuk emosi negative lainnya seperti  marah, benci, sedih, tidak percaya, akhirnya membatasi interaksi dengan orang yang bersangkutan.  

sumber : pexels.com

Ekspektasi ialah suatu kepercayaan atau keyakinan individu sebelumnya tentang berbagai hal yang seharusnya terjadi pada situasi tertentu. Jadi ekspektasi itu semacam standar harapan yang disetel dalam pikiran seseorang mengenai suatu hal, sebelum hal tersebut benar-benar terjadi.

Ekspektasi adalah pemaknaan subjektif seseorang, hadir dalam benak seseorang baik secara sadar maupun tidak sadar. Karena itu ekspektasi setiap orang pasti berbebeda-beda. Saat seseorang mengatakan “pesan teh manis hangat segelas!”. Maka dalam benaknya sebenarnya sudah ada ekspetasi tentang bagaimana standar ideal ‘teh hangat manis”. Sebaliknya sang penjual juga telah memiliki standar ideal yang subjektif tentang bagaimana racikan yang paling pas untuk segelas teh hangat manis.   Ketika teh dihidangkan dan mulai diminum, maka ekspektasi si pembeli kemudian dievaluasi : apakah kenyataan yang dirasakannya sesuai atau tidak dengan ekspektasinya.  Hasil evaluasi bisa di atas ekspektasi, hampir sama  atau justru di bawah ekspektasinya. Hasil evaluasi inilah yang akan mempengaruhi apakah ia akan memanggil pelayan warung, meminta tambahan gula, air panas, seduhan teh pahit atau cukup mengucapkan terimkasih sambil tersenyum.

sumber : pexels.com

Manusia punya kecenderungan memiliki ekspektasi sebelum bertindak, hal ini wajar dan alamiah kok. Justru ekspektasi seringkali mendorong manusia melakukan suatu  perbuatan tertentu. Masalah seringkali muncul ketika ekspektasi melibatkan orang lain, bukan hanya diri sendiri. Sebagian besar ekspektasi justru melibatkan orang lain.

 Saya menulis ini sambil mendengarkan  salah satu lirik Nufi Wardhana yang menggubah  Lagu Banyu langit jadi bahasa Indonesia ..

“janjimu pergimu tak seberapa lama, pamitmu tak sampai berjumpa senja”

“janjimu pergimu tak seberapa lama, sampai kapan kan Ku tunggu hingga tua”

sumber : pexels.com

Nah, ekspektasi yang  berkaitan dengan orang lain dalam hubungan yang melibatkan perasaan yang kuat, berulang-ulang dalam interaksi yang relatif lama  akan menjadikan ekspektasi hadir berulang-ulang dalam bentuk yang beragam dan lebih rumit.  Coba Anda simak beberapa contoh berikut ini :

  1. Seorang isri mendapati untuk kesekian puluh kalinya, sang suami kembali meletakkan handuk kotor di atas kasur selepas mandi. Istri merasa sudah berkali-kali menegur dan menasihati sehingga berekspektasi suami bisa tiba-tiba sadar dan otomatis berubah. Namun masih saja perilaku itu diulanginya.
  2. Ekspektasi bahwa mantan suami setelah perceraian akan lebih peduli pada anak , padahal ketika masih menikah juga tidak bertanggungjawab.
  3. Anda berekspektasi seseorang akan segera membayar utang yang nominalnya lebih besar, padahal ingat bahwa utang yang lebih kecil jumlahnya juga sudah bertahun-tahun tidak dibayar.
  4. Anda kecewa, sedih kemudian berekspektasi orang yang menyakiti hati  Anda akan segera minta maaf, padahal orang tersebut  tidak merasa atau tidak sadar apa salahnya pada diri anda. 
  5. Seorang anak murung sendiri di dalam kamar sambil meredam suara tangisnya dengan bantal, mengatakan masih kenyang saat diajak makan malam. Berekspektasi bahwa semua hal akan kembali baik-baik saja ketika pagi tiba.
  6. Seorang ibu berekspektasi lantai rumahnya akan bersih dan rapi di sore hari meski dua anak balitanya makan, minum dan bermain di atasnya hanya dengan sekali menyapu di pagi hari. 
  7. Seorang ibu yang selama lima belas tahun sejak anaknya bayi selalu mencucikan semua baju anaknya, berekspektasi ketika anaknya menjadi gadis secara otomatis paham dan tiba-tiba berinisiatif untuk mencuci bajunya sendiri dan membantu dirinya yang beranjak tua dan sakit-sakitan. Padahal si anak selama belasan tahun tidak pernah belajar juga tidak diajarkan cara mencuci baju serta tidak dilibatkan untuk membantu pekerjaan sehari-hari di rumah.

Daftar contoh di atas akan bertambah panjang jika Anda tambahkan dengan pengalaman Anda sendiri.  Coba Anda baca lagi contoh di atas, kemudian cari polanya.

Ya ekspektasi yang berakhir jadi sakit hati, memiliki pola antara lain :

  1. Orang lain diharapkan bisa memahami ekspektasi subjektif seseorang tanpa perlu mengkonfimasi atau mengungkapkan lewat komunikasi yag benar.
  2. Ekspektasi yag tidak sesuai karena perbedaan prinsip, keyakinan dan sudut pandang dalam menilai suatu hal. Jika masing-masing masih berpegang pada ego yang tinggi, akan sulit untuk menyetarakan ekspektasi.
  3. Seseorang berekspektasi yang lebih tinggi mengenai seseorang, padahal orang tersebut tidak memiliki ilmu yang memadai, keterampilan atau sikap yang relevan untuk melaksanakan standar yang diharapkan.
  4. Seseorang yang secara instan berharap menemui hasil tapi tidak sabar menjalani prosesnya
  5. Mengabaikan tahapan terbentuknya perilaku, berharap besar sementara belum membuktikan yang kecil. Berharap bisa menyelesaikan yang kompleks sementara gagal menuntaskan yang mudah.
  6. Ekspektasi atas perilaku orang lain tanpa ikut membimbing, mengajarkan, memberikan dukungan atau kesempatan. Hanya sekedar mengkritik, mengomentari atau tidakan pasif lainnya.
  7. Tergesa-gesa dan melupakan bahwa setiap perubahan butuh waktu. Jika butuh belasan tahun untuk terbentuknya sebuah perilaku, maka setidaknya butuh beberapa tahun pula bagi orang yang telah menyadarinya untuk belajar perilaku lain sebagai gantinya. Sayangnya sedikit yang mau bersabar dengan lamanya waktu ini.
  8. Menuntut, mengkritik, menekan seseorang agar sesuai dengan ekspektasi Anda akan terasa lebih menyakitkan jika orang tersebut tidak bersedia dan tidak percaya untuk bekerjasama dengan Anda. Saling percaya serta integritas adalah pondasi utama dalam hubungan antarmanusia. 

Bagian paling sulit dari ekspektasi adalah karena anda tidak punya kendali sepenuhnya atas orang lain. Tidak bisa menjangkau hatinya, tak bisa mengontrol pikirannya dan ingatlah bahwa Anda bukan pusat semesta, jangan pernah berharap semua hal di luar Anda selalu sama dengan apa yang anda inginkan. Juga jangan berharap Anda bisa membuat semua orang senang atau setuju dengan ekspektasi Anda.  Jangan berharap bisa menyelesaikan semua masalah, prioritaskan apa yang masih dalam jangkauan kendali dan sesuai dengan kemampuan serta sumber daya yang Anda miliki.

sumber : pexels.com

Karena itu, cara terbaik berdamai dengan ekspektasi adalah pulang dan bersahabat dengan diri sendiri. Lakukan dialog dengan hati, pikiran dan tubuh Anda sendiri. Jadilah pendengar terbaik  dan sahabat yang paling peduli dengan diri Anda, karena pada akhirnya orang yang paling bisa Anda percayai, Anda harapkan dan bertanggungjawab atas diri Anda hanyalah Anda sendiri. Berhenti berekspektasi suatu hal yang belum Anda upayakan dengan sungguh-sungguh.  Belajarlah melakukan penilaian yang realistis dan objektif sehingga anda merasa tetap nyaman untuk mengatakan tidak, menolak, melepaskan, memaklumi atau memaafkan saat Anda sadar itulah pilihan terbaik dan paling mungkin dilakukan saat ini.

Hidup dalam ekspektasi itu menyedot banyak energi, wajar jika orang yang punya ekspektasi tinggi merasa mudah lelah baik secara fisik maupun psikologis. Karena itu, cara berdamai dengan ekspektasi bukan dengan berlari lebih kencang atau berusaha lebih keras. Hal ini justru akan membuat Anda makin kehabisan energi dan harapan. Mulailah dengan melakukan ‘penerimaan diri’ sepaket dengan usaha menerima kondisi saat ini secara realistis. Terima jika keadaannya berbeda, situasinya tak sama, waktunya berubah, ada hal yang tak bisa diputar kembali. Makin ikhlas Anda menerima situasi saat ini dengan semua konsekuensinya, makin lega nafas anda. Makin objektif penilaian Anda terhadap situasi saat ini, akan makin lapang dada Anda. Temui dan minta bantuan dari orang yang kompeten jika diperlukan, karena  untuk bisa melakukan penilaian ojektif, memiliki keterampilan mendengarkan yang memadai serta  berempati  butuh ilmu dan latihan yang berulang-ulang. Jangan berputus asa dari rahmat Allah, Upayakan terus datangnya pertolongan Allah dengan memperbaiki hubungan dengan  Pencipta semesta alam ini.


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *