Ketika bicara pendidikan, sebagian kita lebih senang bicara tips, trik dan langkah praktis. Ini wajar sebenarnya, karena memang manusia ingin melompat pada hal-hal konkrit daripada yang abstrak. Akan tetapi yang jarang disadari  bahwa seperangkat keyakinan, nilai, paradigma berpikir yang abstrak itulah yang justru menggerakkan perkataan dan perbuatan kita. Jadi ketika Kita berusaha mengonfirmasi dan menata ulang personal world view, sejatinya kita sedang memperbaiki respon perkataan dan perbuatan kita

sumber : pexels.com

Pertanyaan fundamental mengenai filsafat pendidikan yang harus dijawab setiap pendidik adalah :

  1. Menurut Anda hakikat manusia itu apa ? untuk apa manusia diciptakan di muka bumi ?
  2. Untuk mencapai tujuan penciptaan itu, manusia perlu dididik menjadi orang yang seperti apa ?

Konsep,  jawaban, pengalaman  Anda mengenai hal tersebut secara langsung atau tidak akan mempengaruhi praktik pendidikan yang Anda lakukan.  

  • Perkembangan Masa Anak-anak

Artinya: “Dan (ingatlah), ketika Rabbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Rabbmu.” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Rabb).” (Qs. 7:172)

Dalam tafsir al-Mukhtasar dijelaskan bahwa Allah menyebutkan sebab pengambilan kesaksian ini, yaitu agar mereka tidak mengatakan pada hari kiamat sebagai alasan atas kesyirikan yang mereka lakukan: “Sungguh kami lalai dan tidak mengetahui keesaan dan ketuhanan Engkau.” Akan tetapi karena mereka telah diciptakan dengan fitrah, dan menjadikan dalam setiap makhluk-Nya tanda-tanda yang menunjukkan keesaan-Nya, serta mengutus para rasul yang memberi mereka kabar gembira dan peringatan; maka alasan mereka tidak dapat diterima.

sumber : pexels.com

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur” ( An- Nahl 78).

Menurut Syeikh Abu Bakar Jabir Az-Jazairi, disebutkan ketiga hal ini karena kelebihannya, meskipun anggota badan yang lain juga merupakan pemberian Allah Subhaanahu wa Ta’aala. Ketiga hal ini merupakan kunci bagi setiap ilmu. Seorang hamba tidaklah mendapatkan ilmu kecuali melalui salah satu pintu ini. Yakni terhadapnya sehingga kamu beriman. Bersyukur terhadapnya adalah dengan menggunakan pemberian itu untuk ketaatan kepada Allah. Barang siapa yang tidak menggunakan untuk berpikir mencari kebenaran atau untuk ketaatan kepada Allah, maka semua itu akan menjadi hujjah terhadapnya (berbalik menimpanya), dan sama saja membalas nikmat dengan keburukan.

Jadi, manusia merupakan makhluk jasadiah sekaligus ruhaniyah, aspek ruhiyah ini seringkali disebut juga ruh, jiwa, nafs, qalb, ‘aql, kalau dalam bahasa yang lebih awam kadang dibedakan antara psikis, emosi,kognitif, spiritual, sosial. Karena itu praktik pendidikan, dalam bentuk apapun itu harus menyentuh keseluruhan aspek ini tanpa kecuali.

sumber : pexels.com
  • Tinjauan Psikologi Perkembangan

Pada fase awal hidupnya, anak belajar melalui perasaan/emosi, sentuhan, pendengaran, pengamatan. Karena mengandalkan panca indera (yang berkembang secara bertahap), maka disarankan anak bisa belajar dengan melibatkan pancaindera secara aktif serta interaksi yang hangat dan saling percaya dengan orang terdekat. Karena itu disarankan, pada fase awal hidupnya, anak belajar dengan orang-orang dekat, dikenal dan bisa dipercaya, bukan orang yang asing atau sering berganti-ganti. Hal ini akan lebih memudahkan terbentuknya rasa aman, ikatan hati dan pengamatan atas proses belajar anak.

Menurut beberapa  hasil penelitian, anak-anak yang yang jarang disentuh, jarang diajak interaksi dan diberikan rangsangan baik visual, pendengaran/verbal, taktil maupun kinestetik maka perkembangan otaknya 20-30% lebih kecil dari ukuran normal anak seusianya.

Konsep perkembangan yang wajar, menurut Bredekamp memiliki dua dimensi : kesesuaian usia (age appropriateness) dan kesesuaian individual (individual appropriateness). Jadi untuk mengecek apakah anak mengalami perkembangan yang wajar maka lakukan pengecekan berkala di setiap tahap usia dengan pencapaian sesuai tugas perkembangannya serta kapasitas dan karakteristik indivual yang khas.

Aspek perkembangan anak meliputi : perkembangan fisik (tinggi badan, berat badan, kesehatan, gerak motorik, dll), perkembangan bahasa dan komunikasi, sosial, emosi, kognisi serta iman/spiritualitas.  Menstimulasi semua aspek ini bisa dengan metode bermain dan atau lainnya.

sumber : pexels.com
  • Psikologi Bermain

Bermain bisa dipakai sebagai metode pembelajaran dan atau hanya permainan saja. Sebagai salah satu metode pembelajaran, bermain melibatkan karateristik khusus yaitu : adanya interaksi aktif sesama peserta maupun dengan lingkungan pembelajaran, memiliki penetapan tujuan tertentu, instruksi atau cara bermain, ada tantangan, kompetisi, situasi pura-pura (tidak sebenarnya), durasi, serta umpan balik.

“Cara terbaik mempelajari sesuatu adalah dengan bermain” (Albert Einstein)

Permainan untuk anak perlu memperhatikan aspek : kesesuaian dengan usia dan tahap perkembangan anak, keamanan material/bahan permainan, tempat permainan yang memadai, waktu yang memadai, teman permainan yang aman.

Ada beberapa jenis permainan, yaitu : 1) bermain peran (permainan simbolis, pura-pura, imajinasi, drama, dll)  2) bermain membentuk (permainan yang membantu mengembangkan keterampilan yang mendukung tugas di sekolah di kemudian hari; misalnya membuat sesuatu dari tepung, clay, lumpur, pasir, crayon,kuas, kapur, brick, puzzle dll).

Jasa Outbound Semarang Oase Indonesia Madani merupakan event organizer yang melayani jasa outbound training Semarang dan sekitarnya, edu travel, talents mapping, family gathering, corporate gathering, rafting adventure, outbound for kids, bimbingan teknis untuk dinas dan kementerian dan berbagai in house training seperti aktivasi hati, the greatness training dan Talents Mapping. Tentu dengan traininer outbound yang bersertifikat BNSP dan para trainer in house training yang berpengalaman pada bidangnya.


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *